Beranda > Kisah Rakyat > Perburuan Binatang Rusa

Perburuan Binatang Rusa

  • Dapat Dua Ekor Sebulan Sudah Hebat

Jarum jam baru menujukan pukul 04.00 wib namun raungan kendaraan sudah terdengar bersahutan dihutan Nyapah Desa Lampeong. Berbekal nasi rantang, mandau (parang khas dayak), Iben(49) bersama tiga rekannya terus menyusuri jalan setapak dihutan itu.

Jalan yang mereka lalui selain sempit juga becek. Malah kadangkala yang dilewati bukan berupa jalan tapi ilalang dan pohon kecil yang direbahkan dengan kaki. Sulitnya medan membuat kendaraan yang mereka tunggangi sering terjatuh.

Panjang jalan setapak itu mencapai tiga kilometer. Dari Lampeong meleati jalan negara mencapai ke muara jalan setapak itu sekitar 17 kilometer. Seminggu sekali jalan itu mereka lewati sehingga terjatuh dari kendaraan sudah hal biasa bagi mereka.

“Kami mau memeriksa jerat yang kami pasang seminggu lalu. Mudah-mudahan kena soalnya sudah hampir tiga minggu jerat yang kami pasang belum juga mendapatkan hasil,” ucap Iben, kepala rombongan, Minggu (1/2).

Belakangan binatang rusa memang mulai sulit ditemukan dihutan tersebut. Jangankan hanya mengandalkan jerat (alat tradisional menangkap binatang rusa), berburu dengan bantuan binatang anjing pun tidak mudah lagi memperoleh tangkapan.

Warga setempat hanya mengadalakan dua cara itu untuk menangkap binatang rusa. Itu sudah menjadi tradisi warga setempat secara turun temurun sejak Desa Lampeong baru berupa ladang (cikal bakal desa lampoeng).

Penyebab langkanya bintang rusa, menurut warga setempat, bukan karena maraknya penangkapan oleh para pemburu tapi disebabkan habitatnya dirusak pelaku perambah hutan baik oleh cukong lokal, perusahaan HPH, perkebunan maupun pertambangan.

“Karena habitatnya dirusak, induk rusa memilih berpidah ke daerah pinggiran hutan yang masih lebat seperti disekitar kaki gunung lumut. Jadi kelangkaan bukan karena ditangkap tapi habitatnya yang berpidah ke tempat yang lebih jauh,” kata Iben.

Iben mengatakan, kini sebulan mendapatkan dua ekor sudah sangat hebat karena cara mereka berburu rusa masih tradisional. Dia meyakini dengan cara tradisional tersebut meski dilakukan sejak turun temurun tak bakalan merusak habibat rusa.

Dia mengaku tercengang mendapat kabar jika hasil tangkapan rusa dari Desa Lampeong dan sekitarnya mencapai 200 ekor sebulan. Itu angka tebak-tebakan, ucapnya, sembari berharap agar pihak lain jangan menyalahkan dan menuding masyarakat sebagai penyebab rusa langka di Barut.

“Kami terus terang sangat tidak setuju dituding sebagai perusak habitat rusa. Karena selain menangkap kami juga turut memlihara habitatnya. Tapi apalah daya kami, hanya masyarakat biasa mana mampu melawan orang kota yang datang merambah hutan,” ungkapnya.

  • Berburu dengan Peluru Buatan Pabrik

Cara berburu rusa masyarakat Desa Lampoeng masih tradisional sekali. Alat tangkapan sebut jerat, dimana caranya tali nilon dipasang diujung pohon sebesar pergelangan tangan kemudian ujung tali menjulur ke tanah diikat melingkar dengan berharap diinjak kaki rusa.

Menangkap dengan cara tradisional seperti itu tergantung keberuntungan. Meski di kariau (rusa dipanggil dengan cara mistis), namun dalam sebulan paling banyak hasil tangkapan cuma dua ekor.

Masih banyaknya populasi rusa di hutan Desa Lampoeng (sebelum habitatnya dirusak perambah hutan) justru dimanfaatkan orang kota untuk berburu menggunakan senapan. Peluru yang digunakan pun tidak sebarangan. Karena rata-rata buatan pabrik.

“Sekali berangkat minimal kita dapat dua rusa. Biasanya kita berangkat dua minggu sekali. Tujuannya tergantung informasi dimana populasi rusa terbanyak. Bisa dihutan sekitar desa Benangin Kecamatan Teweh Timur, bisa juga Desa Kandui Kecamatan Gunung Timang, bahkan sampai Desa Lampoeng Kecamatan Gunung Purei,” ucap seorang pemburu rusa di kelurahan Lanjas Muara Teweh.

Namun seorang pemburu yang memang sengaja dirahasiakan indentitasnya itu tak mau menyebutkan dari mana mereka dapat peluru untuk senapan buatan yang sering mereka bawa untuk berburu. Dia hanya menyebutkan buatan pabrik.

Hasil tangkapan mereka itu dijual kepada pedagang daging di Pasar Pendopo. Tapi ada juga yang dijual kepada penampung yang kemudian dijual secara partai di sejumlah pasar Tradisional di Muara Teweh.

Harga jual tergantung kondisi daging. Misal masih segar satu ekor bisa mencapai Rp1 juta lebih, tapi kalau dagingnya sudah mulai layu harga perekor hanya Rp750 ribu. Daging tersebut dijual secara partai dengan harga Rp70 ribu perkilogram.

“Kita juga membeli hasil tangkapan masyarakat baik dari Desa Benangin maupun Desa Lampoeng. Daging rusak hasil tangkapan pemburu dari dua desa itu tergolong bagus karena diperoleh dari hasil jerat, bukan ditembak,” ucap salah satu pembeli rusak di Muara Teweh yang biasa dipangil sehari-hari dengan nama, Dukdag.

Daging rusa memang digemari warga perkotaan. Selain dagingnya manis dan tidak terlalu berlemak, orang yang mempunyai penyakit tekanan darah tinggi juga tak berpengaruh memakannya.

Karenanya tiap datang, daging rusa selalu habis dibeli, meski harganya terkadang naik. Salah seorang kosumen daging diwarung pasar belauran, Bastiah, mengakui daging rusa sangat digemari.

Tiap hari dia membeli tiga kilogram daging rusa tak pernah bersisa karena selalu dibeli orang. “Peminatnya bahkan melebihi daging sapi,” ucapnya.

  1. 20 Agustus 2010 pukul 1:13 PM

    pemburuan harus di hentikan lama lama hewan hewan ini akan punah contoh dinosaurus yang hidup di jaman purba di buru terus menerus menjadi puna sayang sekali bukan jika di dinosaurus masih ada sampai jaman sekarang kita dpt meneliti hewan tersebut dan jangan memburu hewan, hewan hewan di indonesia banyak yang punah sayang sekali

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: