Beranda > DAS Mentaya, Serimonial > Potret Buram Pendidikan Pedalaman Kalteng

Potret Buram Pendidikan Pedalaman Kalteng

JAKARTA-Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh bersama jajarannya di Depdiknas sedang sibuk menyusun rencana 100 hari kerja, yang akan memasukkan pelajaran kewirausahaan dalam kurikulum pelajaran sejak TK sampai perguruan tinggi.

Ironisnya, sekolah-sekolah di daerah terpencil juga disibukkan dengan kelangkaan siswa, infrastruktur, sarana bangunan yang tak memadai, dan kurangnya tenaga guru.

Itulah kenyataan di lapangan, terutama di wilayah pedalaman terpencil dan kepulauan. Bagaimana mungkin para kepala sekolah akan ikut sibuk memikirkan kurikulum baru itu? Di sekolahnya masih banyak hal yang perlu dibenahi, termasuk melaksanakan program pemerintah untuk menuntaskan wajib belajar (wajar) 9 tahun pada 2010.

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono seusai acara National Summit beberapa waktu lalu, menyebutkan hingga saat ini ada 167 kabupaten di 11 provinsi yang belum melaksanakan wajar 9 tahun.

Menurut data, baru 50,77% guru yang berpendidikan S1. Dari jumlah itu hanya 23,08% guru yang bersertifikat.

Kabupaten Sukamara dan Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah merupakan contoh konkret. Di kedua wilayah yang kaya perkebunan sawit itu masih banyak sekolah yang kurang memadai, baik dilihat dari bangunannya, ruang kelasnya, jumlah muridnya, maupun guru.

Di Sekolah Dasar Negeri Karta Mulia I, Sukamara, saat ini terdaftar 80 orang siswa. Namun yang aktif bersekolah kurang dari separuhnya, hanya sekitar 30 orang siswa dari kelas 1-6. Ada apa gerangan?

“Ada siswa yang tak masuk sekolah karena orangtuanya pagi-pagi sudah pergi berkebun, sehingga dia tidak ada yang urus, atau ikut bekerja di kebun. Ada juga karena siswa malas belajar dan memilih main di rumah. Motivasi masyarakat untuk sekolah masih kurang, tak ada dorongan dari orangtua, dan lingkungan,” kata Sudiyanto, Kepala Sekolah SDN Karta Mulya I ketika berkunjung ke sekolahnya, kemarin.

Dia menuturkan pada tahun ajaran baru kemarin hanya ada tiga orang murid kelas satu yang diantar orangtuanya mendaftar dengan kesadaran sendiri.

Kasus lebih menyedihkan dialami oleh institusi pendidikan di SDN I Sumbermukti, di Kecamatan Kotawaringin Lama, Kotawaringin Barat. Tahun ajaran 2009/2010 ini tercatat 38 orang siswa kelas 1-6 belajar di sini. Mereka dilayani oleh tiga orang guru, satu guru titipan, dan kepala sekolah. Sementara ruang kelas cuma ada tiga lokal.

Bisa dibayangkan bagaimana para guru yang aktifnya cuma bertiga itu, harus membagi waktu mereka untuk mengajar di semua kelas tersebut dalam jam belajar yang bersamaan.

Walhasil mereka pun membagi satu ruang kelas menjadi dua dengan dinding papan sebagai pembatas. Untuk kelas 1 dan 2, dan dipegang olah satu orang guru. Sementara jumlah muridnya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan saja, kelas 1 lima siswa, dan kelas 2 tiga orang.

Proses belajar-mengajar pun tampak kurang nyaman, karena ketika sang guru mengajar di kelas 1, siswa sebelahnya mengintip.

Masalah utama sekolah di pedalaman ini terlihat dari jumlah ruang lokal untuk belajar, jumlah SDM guru yang kurang, dan bangunan sekolahnya sendiri yang hanya terbuat dari kayu dan papan.

Untuk mengajarkan entrepreneur seperti yang akan dilakukan oleh Mendiknas dalam waktu dekat ini kepada para siswa, tampaknya masih jauh dari jangkauan para guru di pedalaman ini.

“Anak-anak ini mudah tersinggung. Bila ditegur sedikit atau diberi tugas seperti menaikkan bendera pada apel Senin, mereka langsung tidak masuk sekolah. Mereka juga suka minder,” ujar Danuri, Kepala Sekolah SDN I Sumber Mukti.

Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: