Beranda > Remang Malam > Jelajah PSK di Muara Teweh

Jelajah PSK di Muara Teweh

  • Beli Sawah dari Bekerja PSK

Mencari tempat pelacuran resmi di Muara Teweh Kabupaten Barito Utara (Barut) tidaklah sulit. Letaknya persis dipinggir jalan. Jarak tempuhnya cuma 15 menit. Misal malas mengendarai kendaraan sendiri bisa menggunakan jasa ojek, biayanya hanya Rp15 ribu.

Lokalisasi tersebut umumnya disebut ‘merong’, nama bekennya ‘lembah durian’. Perkampungan lacur itu tepatnya berada di ruas jalan negara Muara Teweh-Puruk Cahu dikilometer 3,5. Sehingga kerab juga disebut pal ‘tiga setangah’.

Perkampungan itu ada sejak tahun 1988. Sebelum direlokasi ke daerah lembah durian, tempat bekerja para PSK ditempatkan lanting (rumah terampung) di Dermaga Ujung (sekarang sudah berubah menjadi perkampungan penduduk lokal).

Kini penghuni lembah durian sudah mencapai 200 orang, termasuk penduduk setempat yang ikut bermukim dan menetap disitu. Umumnya PSK didatangkan dari pulau jawa, seperti Bandung, Malang maupun Semarang.

Mereka datang silih berganti. Namun yang paling sering mengisi pondokan PSK dari Jawa Timur. Mulai dari yang umur 21 hingga 35 an. Kebanyakan dari mereka janda satu anak. Namun ada juga yang belum kawin, karena prustasi ditinggal pacar lalu terjun jadi PSK.

Seperti pengalaman, Bunga(24), bukan nama sebenarnya. Wanita asal Jawa Timur itu terpaksa mengiyakan ajakan rekannya untuk menjadi PSK di Muara Teweh karena prustasi ditinggal pacar. Padahal dia sedang hamil dua bulan.

“Mengetahui saya hamil dia langsung menghilang. Terakhir saya dapat kabar jika dia sudah beristri. Saya bingung memberi makan anak, terpaksa cari uang dengan cara menjadi PSK,” ucap Bunga.

Mecermati perkembangannya, menjadi penghuni lokaliasi merong seakan tak ada matinya. Jangankan hanya sekadar untuk biaya sekolah anak, untuk membangun rumah di Jawa pun termasuk enteng.

Bahkan tidak sedikit yang keluar dari lokalisasi merong, malah bisa membeli beberapa petak sawah. Ada juga yang bisa bangun mini market dan bangun rumah sewaan. Tapi tidak sedikit juga telantar.

Mereka yang telantar bukan karena pendapatan sedikit, tapi memang tidak bisa memanajemen keuangan selama menjadi penguni lokalisasi Merong. Umumnya yang seperti itu yang punya gendakan (pria simpanan), mudah termakan rayuan sehingga sampai berani keluar uang.

“Selain mempekerjakan mereka saya juga membina mereka supaya misal nanti uang sudah terkumpul bisa membuka usaha lain. Disini mereka saya tuntut untuk bekerja maksimal untuk mendapatkan modal setelah itu saya pulangkan,” kata seorang mucikari.

Mucikari sukses yang juga pemilik sebuah mini market di Jalan Sengaji Hulu Muara Teweh itu mengakui, tak terbilang jumlahnya anak asuhnya yang menjadi orang sukses di kampungnya setelah beberapa tahun menjadi PSK di Merong.

Namun dia tak mau menyebutkan daerah asalnya. Hanya disebutkan kebanyak anak buahnya dari kampungnya di sebuah kota di Jawa Timur. “Tidak pernah saya membawa pekerja di bawah umur.

Semua jadi baik yang ditingkal mati suami atau ditinggal beristri lagi,” ucapnya.

  • Pasang Surut Lokalisasi Merong

Perkembangan lokalisasi Merong sebenarnya ada pasang surutnya. Berdasarkan catatan terdapat tiga tingkatan. Pertama musim kayu HPH. Kedua musim kayu lokal. Terakhir musim tambang batu bara.

Ketika musim HPH, sekitar tahun 1988-1999, pengunjung lokalisasi merong didominasi para karyawan HPH. Bahkan sekali-sekali petinggi-petinggi diperusahaan HPH juga nimbrung ikut mencicipi para PSK di lokalisasi merong.

“Namun, meski saat itu lagi jaya-jayanya perusahaan HPH, penghasilan tidak seperti kala musim kayu lokal. Maklum jumlah karyawan juga terbatas. Kalau musim kayu lokal, cari uang tiga juta semalam mudah karena masyarakat yang bekerja kayu banyak,” ucap seorang mantan PSK yang kini beralih profesi menjadi mucikari di lokalisasi Merong.

Pasang surunya, sebutnya, setelah kayu lokal dihentikan beroperasi. PSK Merong hanya mengandalkan pengujung dari beberapa pekerja proyek pemerintah, rekanan, PNS dan sejumlah masyarakat umum.

Kini denyut nadi perekonomian di lokalisai Merong kencang lagi berdetak. Dentuman hous musik dari puluhan wisma saling bersahutan tiap siang dan malam. Gairah baru muncul di lokalisasi Merong, setelah beberapa perusahaan tambang batu bara beroperasi.

Bahkan tidak hanya karyawan perusahaan nampak nimbrung tiap malam di dalam karaoke bersama PSK. Bos-bos bara (demikian para PSK mengistilahkan nama pimpinan batu bara), kerab kali ikut bergabung menghibur diri di lokalisasi Merong.

“Sekarang hasil karaoke dalam semalam sudah ada yang mencapai lima juta. Itu penghasilan hanya dari minuman dan lagu, belum lagi penghasilan dari pelayanan sahwat,” kata mucikari pemilik wisma Casanova.

Ditengah mulai ramainya pengujung, kabar menghentakkan tiba-tiba datang. Dinas Kesehatan Barut membeberkan hasil uji lab yang menyebutkan empat orang PSK Merong positif mengidap penyakit HIV.

Namun sayang, kabar yang justru dihembus media masa tak ditindak lanjuti dengan tindakan atau penanganan cepat dinas teknis. Sehingga PSK Merong resah dan pengunjung perlahan-lahan berkurang.

“Kami ingin agar secepatnya diselesaikan. Jika kabar itu benar tolong ditindak lanjuti dengan penjemputan agar yang sehat tidak ketularan. Sekarang kami masih menebak-nebak, sehingga di antara kami tiap hari tumbuh saling curiga,” ucap seorang PSK asal Madura.

Sudah tiga bulan ini kabar tersebut belum juga ditindak lanjuti dinas teknis. Merasa turut bertanggungjawab, BUpati Barut H Akhmad Yuliansyah turun tangan dengan meminta agar Dinas Kesehatan secepatnya menindak lanjuti hasil lab tersebut.

“Jangan temuan penderita HIV hanya membuat resah. Tolong tindak lanjuti temuan. Misal benar, orangnya langsung diberi penanganan khusus atau secepatnya dipulangkan ke kampung asalnya,” ucap Yuli.

  • PSK Liar Ditengah Kota

Menggiurkannya bisnis esek-esek, mengilhami para PSK lokal menjalankan bisnisnya. Tengok saja kelompok PSK liar yang sering makal di Pasar Pendopo maupaun di jembatan Butong, Muara Teweh.
Lokasi bisnis lendir itu persis berada ditengah-tengah kota, namun jarang sekali aktifitas mereka terendus penertiban. Mereka bebas menjalankan aktivitasnya, tanpa janggung menggoda setiap orang yang melewati tunggu pahlawan di depan bekas Kantor Dinas Pendapatan.

“Kami sebenarnya risih juga. Kami berjualan baik-baik disini, tapi ikut juga disorot. Untungnya jualan tetap saja laku, terutama pembelinya para laki-laki yang hendak memboking PSK disini,” ucap seorang ibu muda, dua anak.

Berdasarkan pengamatan, ada sepuluh PSK beroperasi di sekitar pasar Pendopo. Enam orang khusus mangkal diwarung-warung, sedangkan beberapa di antaranya berdiri di taman tunggu pahlawan yang baru saja usai pugar.

PSK lokal ini umumnya berasal dari desa, khususnya Lemo dan Pendreh. Latarbelakang mereka hingga terjun menjadi PSK di lokasi itu kebanyakan kecewa karena ditinggal suami. Namun ada juga yang karena faktor ekonomi.

Seperti pengakuan Lola(18), bukan nama sebenarnya. Karena tergiur memiliki materi seperti teman kebanyakan, sehingga nekad terjun menjadi salah satu PSK di Pasar Pendopo. Uniknya, dia bersama tiga rekannya sambil membuka warung di lokasi itu.

“Awalnya saya iri melihat teman disini punya HP semua. Tapi awalnya saya melakukannya dengan pacar baru saya cari uang menjadi PSK. Modal untuk warung ini juga saya dapatkan dari hasil menjual diri,” ucapnya.

Diakuinya, pekerjaan mereka bersama temannya tak diketahui orang tuanya karena mereka dilokasi sebagai penjaga warung. Hanya beberapa orang langganan, yang mengetahui jika mereka PSk.

Namun diwarung hanya nego harga, sedangkan tempat kencan beberapa penginapan di Jalan Tumenggung Surapati dan Yetro Sinseng. Tapi penginapan hanya melayani mereka tengah malam, agar
tak diketahui tamu lainnya.

Zaenab(30), lain lagi latarbelakangnya. Gadis Pendreh ini terjun menjadi PSK liar di sekitar jembatan Butong karena tak ada pekerjaan lain untuk memberi makan anaknya. Suaminya sudah lama meninggalkannya, jauh hari sebelum dia melahirkan buah hatinya.

“Mau apalagi, cari pekerjaan susah apalagi saya tidak punya keahlian sama sekali. Karena hanya ada kesempatan menjadi PSK yang terpaksa saya jalani. Saya terpaksa mensukuri pekerjaan ini karena memang hanya cara ini saya bisa,” ucapnya lugu.

Dia mengaku belum berpikir untuk berhenti dari pekerjaannya. Kecuali uang sudah banyak terkumpul, bisa membuka usaha warung minum meski hanya dipinggir jalan raya.

“Mudah-mudahan saya cepat dapat uang biar saya insap,” bebernya. Alahualam.

  1. 11 November 2009 pukul 3:11 AM | #1

    Aneh tapi nyata … PSK mau insyaf setelah punya uang banyak. Sama dengan koruptor ya… insyaf setelah berhasil korupsi.. he..he..

  2. tris
    23 Mei 2010 pukul 7:38 AM | #2

    jalan hidup… tdk selamanya hina, mudahn mereka di beri ekonomi yg baik sehingga cpt kkelaur dari jalan yg hina

  3. ari
    30 Mei 2010 pukul 3:27 PM | #3

    wah bagus juga menelusuri kehidupan PSK d muara teweh.
    aku tertarik dgn psk yang berjualan sambil jadi psk, biasanya ada yang masih sekolah loh, oya kalau ada yang punya nomor HP nya dong…!

  1. No trackbacks yet.
Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: